Salah jurusan itu ngga enak!, benar. Benar sekali!. 7 poin dalam gambar itu semuanya tidak ada yang salah. Yang namanya salah jurusan apalagi dalam dunia perkuliahan, pasti sulit. Tertekan, stress, lelah, prestasi akademik rendah, motivasi rendah, kuliah lama tapi tak dapat apa-apa, resiko drop out bahkan terjebak karier. 

Sebelum kita menghujat segala ke-negatif-an yang ada, sebenarnya apa yang menyebabkan kita bisa salah jurusan?. Ada beberapa faktor, yang pertama mungkin kehendak orang tua, dan yang kedua terjebak dengan takdir. 

salah jurusan yang disebabkan karena sebuah kehendak orang lain, maka hasilnya pasti tidak akan baik. Sangat jarang, mereka bisa menjalankan dunia perkuliahan tanpa hambatan. 7 poin yang ada diatas adalah efek salah jurusan yang disebabkan karena point pertama. 

Dulu, temanku juga mengalami hal demikian. Sebut saja dia Jono. Jono selalu mengeluh dengan tugas-tugas kampus kepadaku. Nilai akademisnya tidak lebih dari angka dua, nyaris selalu diangka satu koma. Katanya, dia tidak mengerti. Lantas dia mulai mencurahkan segala isi hatinya, sebenarnya saya ingin jadi seorang tentara. Tapi, tesnya selalu gagal, sudah tiga kali mencoba namun gagal lagi dan lagi. Daripada saya tidak kuliah dan ayah saya yang selalu memaksa untuk kuliah di Teknik Sipil, akhirnya saya lanjutkan saja dulu di sini. Daripada nanti uang jajanku di stop. Nanti saya mau mencoba sekali lagi katanya, jika lulus dia akan meninggalkan kuliahnya saat ini.

Semester demi semester dia lalui, semakin hari motivasinya semakin tidak ada. Banyak mata kuliah yang gagal dan harus mengulang. Hingga akhirnya dia semakin jarang masuk kelas, badannya yang besar tak pernah nampak dalam kelas selama berbulan-bulan lamanya.

Setelah sekian lama menghilang, akhirnya dia menampakkan diri kembali dengan segala ketertinggalan yang sangat jauh. Bahkan, teman-teman sekelas juga enggan untuk membantunya. Miris!. Aku, mecoba membantunya semampuku. Namun, dia sudah pantang arah. Raut mukanya begitu murung tak ada senyum atau bahkan tertawa. Padahal, dulu dia adalah seorang yang periang dan selalu bisa mengeluarkan lelucon hingga teman-teman dibuatnya tertawa terbahak-bahak.

Di tahun keempat, teman-teman sudah banyak yang lulus, termasuk aku. 

Jono kembali menghilang dan setahun setelahnya entah ada angin apa, dia mengirimkan massanger di facebook. Bertanya kabar kepadaku dan segala aktivitasku saat itu. Aku mencoba bertanya juga kepadanya bagaimana dengan kuliahnya. Ternyata, dia lebih memilih mundur. Di WO dari kampus, dan tentara juga tak kunjung diterima. Akhirnya, dia melanjutkan hobinya. Menjadi seorang fotografer yang selalu berkeliling menikmati alam Indonesia. 

Tidak hanya Jono, di kelas ada beberapa yang bernasib sama. Bahkan ada yang dirawat selama satu semester dan akhirnya, dia pindah jurusan.

Tapi, untuk penyebab yang kedua kasusnya berbeda. Terjebak dalam takdir. Kenapa terjebak? Karena kita sebenarnya tidak tau tentang jurusan itu. Tapi, kita nekat pasang jurusan itu di form pendaftaran. Dalihnya, kita ikut-ikutan teman.

Persis ini adalah pengalaman pribadiku. Karena ke-awaman tentang jurusan di perkuliahan, akhirnya aku hanya ikut-ikutan teman. Teknik sipil aku simpan pada pilihan terakhir.

Ketika pengumuman tiba, ternyata pilihan terakhir yang lulus. Seperti buah simalakama. Diambil tapi tak paham, tidak diambil, akan berefek ke adik kelas.

Waktu itu, sedang maraknya beasiswa bidikmisi. Semua teman sekelasku didaftarkan melalui jalur tersebut. Termasuk aku.

Aku adalah angkatan kedua dalam beasiswa itu, karena aku lulus dengan beasiswa. Alhasil semua guru-guru memaksaku untuk mengambil kesempatan itu. Salah jurusan seolah menjadi peluang!.

Peluang untuk mempelajari ilmu baru!. Dan bisa jadi ini memang sudah suratan takdir yang sudah digariskan untuk dijalani.

Salah jurusan tidak seburuk yang kita bayangkan. Jika kita mau melihatnya dari sudut pandang yang lain. Sudut pandang dari orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan.

Poin 1 dan 2, memang aku alami. Tapi untuk poin 3 dan seterusnya ternyata tidak demikian. Nilai akademis masih dan selalu pada batas aman.

Lulus tepat 4 tahun, meski ada beberapa mata kuliah yang tertinggal. Dan jika kita mau berusaha lebih. Kita bisa mengejar ketertinggalan itu. Tidak harus di paksa keluar secara tidak terhormat dari pihak kampus (DO.red).

Karier? Justru menemukan kenyamanan setelah sekian banyak tetesan air mata dan keringat.

Jadi, salah jurusan kenapa tidak? Jika kita mau belajar lagi dari nol, mencoba berpikir positif, menggali potensi yang sudah lama tersimpan dan membuka cakrawala pikiran. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini! Begitu katanya.

#Berpikirpositif

Post Comment