Yang ku ingat adalah ketika sebuah keranda besi yang dibalut kain hitam diangkat bersama-sama, aku pun menunduk dibawahnya beberapa kali memutarinya, entah apa tujuannya waktu itu. Itu lah yang ku ingat bahwa aku dan ibu tidak bertemu lagi sampai sekarang. Aku hanya di hibur dengan kata-kata bahwa ibu pergi hanya untuk sementara kala itu oleh seluruh anggota keluarga. “Okelah aku akan menunggu untuk ketemu ibu lagi” guman ku dalam hati,

Dan akhirnya aku pun dibawa kembali oleh Bapakku pulang ke Kota dimana tempat kami sekeluarga mengais rezeki kala itu. Aku masih bertanya kepada Bapakku, kenapa ibu lama sekali pulangnya? Apa mungkin ibu sampai ke tujuannya dengan cara di angkat oleh orang-orang di kampung? Apa ibu tidak ingat dan sayang dengan anaknya? Bapak pun menjawab dengan senyuman sembari mata berkaca-kaca. “Ibu pasti pulang kok, sabar saja”

Waktu demi waktu pun berlalu, aku dan bapak pun sesekali mengunjungi desa itu. Tetapi bapak selalu pamit agak sebentar entah kemana, aku pun ditinggal di rumah. Setibanya bapak di rumah, aku pun kembali bertanya kepada Bapak, “Bapak kemana? Kok gak bawa aku?” Bapak pergi sebentar melihat ibu, ibu sehat-sehat saja di sana nak, dia menitipkan salam untuk mu,” ujar bapak

Alahkah senangnya hatiku ketika itu, ibu menitipkan salamnya untuk ku, tetapi kenapa ibu tidak mau bertemu dengan ku? Padahal aku sudah tiba di desa dimana tempat kami berpisah beberapa waktu lalu, kenapa ibu berubah? Aku sangat rindu dengan ibu, dia yang selalu mendongengkan aku cerita untuk pengantar tidur. Harus ku akui, bapakku tidak sehebat ibu dalam mendongeng cerita Si Kancil dan semangkuk kue talam untuk si tuan, aku selalu protes jika bapak yang mendongeng untuk ku. Aku ingin mendengar dongeng, bukan mendengar lelucon bapak. Yang seolah-olah menembak binatang dengan tangannya. Ah kenapa bapak tidak bisa mendongeng. Beberapa waktu ini aku memang didongenkan oleh bapak, karena ibu pergi entah kemana dan sampai sekarang ibu belum pulang, hanya salam yang dikirimkan oleh Ibu, itupun kata Bapak.

Setiap tamu yang datang pun serasa aneh ucapannya kepada Bapak dan keluarga, “Oh ini anak dari mendiang y” entah apa maksud mendiang itu, aku pun tak tahu, yang ku tahu mendiang itu bukan nama ibuku. Hmmm Enak saja mereka menggati nama ibuku dengan Mendiang. Aku tidak berani bertanya kenapa nama ibu berubah menjadi Mendiang di desa ini. Ah bisa saja mereka menyebut nama ibu dengan mendiang. Yang jelas aku kangen sekali dengan Ibu. Aku selalu menunggu kehadiran ibu. Itu gumanku dalam hati.

Hari ini aku berulang tahun, ibu tak juga datang. Kenapa ibu tak datang, padahal hari ini adalah hari yang sangat bahagia buatku, apa ibu sudah tidak ingat lagi hari spesial ini? Biasanya ibu selalu memberi ku hadiah di hari ulang tahun ku, entah itu mainan, baju atau apapun yang ku minta, pasti diberikan. Biarlah mungkin ibu masih sibuk. Aku pun kembali bertanya kepada bapak, “Kemana Ibu, Pak? Ibu tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku?” dan bapak pun menjawab, “Ibu ingat nak, ibu sudah menitipkan hadiah buat mu, nanti bapak jemput y”

Di hari Raya pun, Aku hanya berdua dengan bapak, ibu juga belum pulang, apa ibu juga tidak tahu kalau hari adalah hari raya? Yang biasanya ibu selalu bersemangat di hari ini. Baju baru pun tidak lupa untuk ku. Aku melihat dari kejauhan teman-temanku semuanya bersuka cita dengan ibu dan bapaknya, aku? Ibu belum juga pulang dari perjalanannya yang aku tidak tahu kemana. Aku hanya digandeng oleh bapak. Kembali aku bertanya kepada Bapak, apalagi jawaban bapak? Ibu tidak juga pulang, aku sedikit protes dengan bapak. “Ibu masih sibuk nak, tapi baju yang kamu pakai ini adalah baju pembelian ibu yang dititipkan ke Bapak, kata ibu pasti kamu suka” Aku pun mencoba setuju dengan bapak, padahal ibu tahu kalau baju kesukaanku berwarna biru, sementara baju yang kupakai ini adalah baju warna merah. Hmmm mungkin ibu mulai lupa dengan kesukaanku, karena lama tidak ketemu.

Setelah bosan, aku pun tidak mau bertanya lagi kepada Bapak, kemana ibu, biar saja ibu mau pulang atau tidak, masih ingat dengan dongeng atau tidak, masih ingat hari ulang tahun ku atau tidak, masih ingat warna biru kesukaan ku atau tidak. Aku sudah tidak mau menanyakan lagi, karena ibu pasti tidak datang.

Sampai lah di satu waktu, dimana Bapak memberikan kabar bahagia kepada ku, bahwa kami akan mengunjugi ibu di desa, aku pun dengan suka cita menyambut ajakan bapak itu. Aku pun sudah menyimpan cerita yang ingin ku sampaikan kepada ibu kelak. Aku pun telah siap dengan baju berwarna biru. Agar ibu ingat dengan warna kesukaanku. Aku akan bilang ke ibu bahwa bapak tidak bisa mendongeng untuk ku, bapak tidak ada cerita kancil dan kue talam seperti yang ibu ceritakan kepadaku. Aku ingin peluk ibu nanti, aku ingin dengar cerita kancil dan kue talam dari ibu.

Aku dan bapak menuju ke tempat ibu dengan penuh semangat,sebelum sampai ke tempat ibu, aku sempat ngomel kebapak, kenapa tempat ibu ini, banyak semak belukar dan rumput, banyak juga tumpukan tanah yang di atas nya banyak bunga, dimana ibu? Aku mau ketemu ibu, aku ingin melihat ibu, walaupun nanti ibu pergi lagi dan tidak pulang bersama kita.

Aku pun heran kenapa bapak menangis? Aku pun menangis karena aku tidak melihat ibu di tempat ini, bapak menunjuk di suatu tumpukan tanah yang di pagari dengan besi, ibu disini nak, ibu tidak bisa berkumpul lagi dengan kita, ibu sudah tenang disini. Ibu pasti senang melihat kamu kesini mengunjunginya. Ucapkan salam kepada ibu ceritakan lah apa yang ingin kamu ceritakan kepada ibu, ibu pasti mendengar. Ibu tersenyum.

Aku tidak percaya dengan ucapan bapak, bagaimana ibu bisa tersenyum dibalik tumpukan tanah ini? Bukankah tanah ini menghimpit tubuh ibu?

Pak, aku ingin memeluk ibu sebentar saja, tolong keluarkan ibu dari dalam tanah itu, apa bapak tidak kasihan melihat ibu di dalam sana? Sebentar saja, tolong pak. Aku ingin mendengar suara ibu, aku rindu belaian tangan ibu di kepalaku, dongeng ibu juga masih terngiang di telingaku. Aku sudah pakai baju biru sekarang. Aku ingin tunjukan kepada ibu, aku juga minta kado ulang tahun ku, ayo ibu pulang lah bersama kami,………..

admin

Keluarga Akasara adalah sebuah komunitas menulis yang didirikan oleh Dally Sandradiputra, Nela Rismen dan Ulfah Aulia. Yang mana komunitas ini menampung semua yang berkaitan dengan kepenulisan.

Post Comment