Setiap hari, selalu ada kisah. Entah senang atau sebaliknya. Dalam kisah itu, bisakah kita mengambil satu sisi hikmah atau pelajarannya? Karena selalu ada makna tersirat dalam menjalani hidup. 

Hari ini, hujan kembali mengguyur sebidang tanah kabupaten Cirebon dan sekitarnya. Hujan kembali melakukan tugasnya. Memberikan berkah bagi semesta. Terkecuali dia yang disebut manusia. Tidak semua memang, tapi banyak yang justru mencaci dan mengeluhkan kedatangan sang hujan. 

Waktu menunjukkan pukul 14.00, hari ini adalah jadwalku bertemu anak-anak usia 8-11 th. Mengajarkan ilmu agama kepada mereka. Syukurku, masih di sambut oleh mereka yang semangat mencari ilmu, meski cuaca lebih mendukung mereka untuk tidur. 

Hanya ada beberapa anak di sana, dibagi kedalam kelas 1,2,3 dan 4.  Aku kedapatan mengajar di kelas 4 hari itu. Dari 16 siswa yang hadir hanya 3 orang. 2 laki-laki dan 1 perempuan.

Rasanya, era milenial memang berbeda jika dibandingkan dengan masa kecilku dulu. Tidak hanya satu atau dua orang yang berkata demikian. “Jaman sudah berbeda bu,” begitu kira-kira kalimat yang terlontar.

Pembelajaran dimulai dengan do’a belajar. Setelah itu aku menyuruh mereka bertiga untuk menulis. Belum juga menunjukkan apa dan sampai mana mereka menulis, tapi salah satu diantara mereka sudah langsung berkata “bu, pulang aja. Kita sedikitan”, belum sempat aku menjawab yang satu berkata lagi “bu, nulis jangan banyak-banyak, udah itu pulang ya bu”. Aku hanya diam, berfikir. Kok aku seperti sedang jualan, yang sedang ditawar-tawar sama pembeli.

Karena aku tau jalan pulang mereka searah dengan rumahku, akhirnya ku iming-imingi mereka dengan mengajak mereka pulang bareng naik motor bersamaku dengan syarat mereka menulis sampai selesai.

Dan berhasil! Mereka begitu girang dan langsung segera menulis.

Tiba-tiba, datanglah anak kelas 2 jalan ke arahku seorang diri. Langsung bersender dan diam.

“Kok, kesini? Teman-temannya mana? Pelajaran siapa?”

“Gak tau bu, aku sendirian. Pelajaran ibu R”

“Pelajarannya apa?”

Dan dia hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.

“Aqidatul awam bukan?”

Lagi-lagi dia mengangkat bahu. Tapi kali ini dia sambil senyum-senyum simpul. Membuatku curiga.

“Memang gak catat jadwal? Ibu kan gak hafal jadwal kalian”.

“Iya bu, aqidatul awam. Tapi aku jarang berangkat kalau hari kamis. Jadi gak tau sampai mana”

Weleh, aku harus puter otak. Ini anak ngapain dong. Kasian juga kalau dia gak dapat apa-apa fikirku. Tapi, dalam benaknya berbeda. Dalam hatinya dia pasti berkata yes, aku bebas gak belajar!.

Disisi lain, anak kelas 4 bukannya lanjut menulis, mereka malah asik mengobrol dan tulisan mereka terbengkalai.

“Loh, kenapa pada curhat. Ayok nulis lagi” tegasku.

Bukannya langsung menulis, mereka malah melanjutkan obrolan-obrolan bahkan aku harus terpaksa masuk ke dalam obrolan mereka.

“Itu bu, Al sama Ha ngobrol terus mah. Rebutan Ka tuh bu” seru Na.

Aku masih belum paham. Rebutan? Nama perempuan? Maksudnya apa?

“Rebutan gimana?” Aku berusaha menegaskan.

“Jadi bu, mereka tuh suka sama satu cewe” Na menegaskan.

“Apaan, nggak bu. Bohong dia.” Jawab Al

“Eh sory dong, aku mah sudah ada” Ha ikut angkat berbicara.

Mereka dengan asik dan muka malu-malu setengah sumringah terus bercanda. Bahkan sambil senggal senggol. Aku melerai mereka, untuk kembali menulis.

Dan, datanglah satu anak lagi kelas 4. Dia seperti orang linglung, melihatku setengah ketakutan. Takut akan dimarahi.

Aku hanya menyuruhnya duduk, Ha dan Na tiba-tiba mengajukan protes.

“Bu, kok curang nggak dihukum”

Rupanya mereka masih ingat, aku pernah mendisiplinkan mereka dengan hafalan ketika mereka terlambat. Akupun memberlakukan hal yang sama. Selesai mendengar hafalan dari Ai, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. Betapa syoknya aku dengan percakapan mereka.

“Bu, Al pernah nangis pas putus sama pacaranya?”

What? Anak kelas 5 SD pacaran? Nangis? Oh god, dunia apa yang aku masuki?

“Putus? Pacaran? Emang gimana bilang pacaran?” Ujarku

“Nggak bu, jangan ladenin Na bu, bohong dia”

“Kalian emang tau pacaran?”

“Tau bu” mereka begitu kompak

“Apa?” Slidikku

“Pokonya gitu bu, rasa cinta yang diutarakan”

“Aku dong bu, pacarnya cakep. Namanya Bre” Na dengan bangga berkata.

Mulutku mungkin seperti buaya yang sedang menunggu mangsa untuk dilahap.

Ini obrolan macam apa? Kok bisa mereka dengan bangga berkata pacar dan segala macam. Bahkan Na berkata cinta itu gak harus memiliki bu.

Aku tak habis pikir, dulu seingatku disaat aku seusia mereka, dalam otakku hanya ada main dan main. Ini aku yang kudet atau memang zaman saat ini sangat berebeda?.

Daripada obrolan semakin berlarut dan ngawur, akhirnya aku tidak menghiraukan mereka. Aku kembali ke anak kelas 2 untuk mendiktekan materi aqidatul awam seingatku. Dan mereka akhirnya melanjutkan kembali menulis.

Menulis selesai. Datang lagi 2 orang anak perempuan kelas 3 ikut bergabung duduk bersamaku. Masih tersisa 15 menit lagi menuju jam istirahat.

“Kelas 3 kenapa kesini? Bukannya ada bapa?”

“Udah selesai bu” Fi menjawab dengan muka bosan dan sedikit kesal.

Aku membiarkan mereka, dan aku memutuskan mencoba memberikan cerita berharap bisa menjadi sedikit motivasi bagi mereka. Belum juga aku memulai cerita, Fi sudah angkat bicara.

“Bu, aku tuh malas”

“Malas kenapa?”

“Ya aku tuh dipaksa sama orang tua bu, kalau sekolah madrasah”

“Loh, harusnya senang. Ibu dulu sekolah madrasah sampai jam 5 sore”

“Ya beda dong bu”

“Bu,pulang sih. Mau liat magic tumbler”

“Apa itu?”

“Film bu, yang di tv”

Bukan hanya Fi yang mengeluh dipaksa, ternyata Ha, Na, juga demikian.

“Harusnya kalian bersyukur, dipaksanya buat belajar”

“Nggak bu, aku gak senang. Enak main hp, enak main bola, enak nonton tv.”

Oke fiks aku dikeroyok mereka. Aku mencoba memberikan petuah “nak, berlelah-lelahlah dalam belajar, agar kalian tidak menikmati kebodohan. Mau jadi orang bodoh?” Semua serentak berkata “tidak”.

Rasanya tersayat-sayat hatiku, ucapan mereka begitu tajam. Beginikah anak-anak yang harus aku didik? Sanggupkah aku? Berkali-kali hati berseteru.

Kita tau, zaman milenial ini tidak bisa terlepas dari yang namanya gawai, anak usia satu tahun juya sudah diperbolehkan menggenggamnya.

Betapa membuat hati ini berkali-kali tertegun, sebesar inikah dampak dari gawai? Pacaran, jomblo, patah hati, cinta, bukankah itu kosa kata yang seharusnya belum mereka kenal? Bahkan tak sedikit dari anak-anak yang berani menentang kepada guru atau orangtuanya. Mereka selalu bisa membalikkan kata.

Sudah banyak bukan, berita di luar sana yang mengabarkan bahwa guru dibunuh siswa, guru memukul siswa, bahkan kebalikannya.

Ada rasa kesal, ada rasa geli, ada juga rasa geram.

Jadi teringat sebuah chat dengan sahabat penaku, rasanya lebih baik mendidik anak-anak sendiri saja. Tapi sadar kita belum punya anak (plak! Tepok jidat).

Sebenarnya masih banyak kisah dan celotehan mereka. Kelak aku akan mencoba kembali menceritakannya.

CIREBON,18-01-2020

Selamat bermalam minggu, dalam rinai hujan.

Post Comment